Sepenggal fiksi inspiratif…

Senyum Manis “227”

 

            Siang itu lalu lintas Jl.Airlangga Surabaya tampak begitu padat. Dua ruas jalan yang berbeda arah dipenuhi kendaraan roda dua dan roda empat. Asap knalpot yang membumbung, suara deru mesin motor yang bising menambah hiruk pikuk jalan di siang bolong ini.

“Phiuhfff….Aku menghela nafas sejenak sembari menyeka keringat yang mulai bercucuran . Sudah setengah jam aku mematung di sini menunggu bemo Wk yang akan mengantarkan aku ke Pasar Pucang dekat rumah Bulekku tinggal. Iseng-iseng aku mengedarkan pandanganku pada orang yang lalu lalang di sekitarku. Di sebelah selatan gerbang kampus, hilir mudik mahasiswa tak pernah sepi. Guratan wajah lelah dan jenuh nampak bergelayut di wajah mereka. Pun di sepanjang trotoar ini, para abang becak malah memilih molor dan nangkring di armada mereka sambil menikmati alunan musik dangdut.

“Yaaachhh..Mana mungkin ada wajah menyenangkan di siang terik seperti ini. Teriakan lantang para abang supir bemo dan suara klakson kendaraan yang bersahutan tentu akan membuat “bete” semua orang.Aku jadi teringat dengan peristiwa pagi kelabu tadi. Aku datang pagi benar untuk menyerahkan proposal penelitianku kepada dosen pembimbingku untuk tugas akhirku, tetapi dengan seenaknya beliau mementahkan dan menganggap proposalku adalah proposal plagiat. Wah dasar..dosen tak punya hati, dia tidak memikirkan bagaimana aku susah payah mengumpukan semua data dan melakukan observasi ke lapangan. Woi..aku bukan lelaki sepengecut itu untuk mengcopy paste judul karya orang lain. Sedangkan hal paling menyebalkan lagi,ternyata mahasiswa yang mengajukan judul persis seperti yang aku punya adalah teman sekelasku sendiri di kelas Eksperimen. Walau kami sekedar berbincang-bincang kecil membahas proposal skripsi itu,tak kusangka dia tega menjiplak karya yang kurancang sedemikian rupa.Anganku terus melayang-layang hingga lamunanku buyar saat…

“Shitt…Tampak dari tikungan bemo Wk yang sedang kutunggu berlalu meninggalkanku yang hampir satu jam berpanas-panasan di tengah terik matahari dan kesombongan kampus Airlangga. Ku segera tersadar dan memanggilnya berharap abang sopir berhenti dan menungguku.Namun sepertinya usahaku sia-sia.  Kuterpekur lunglai dipinggir trotoar itu dan merutuki diriku yang melamun tak tentu arah. Musnah sudah bayangan Es Blauran yang nikmat melegakan tenggorokan tersedak amarah gara-gara bemo tak tahu diuntung.

“Ckckck…entah apa yang merasuki diriku hari ini. Sepertinya semuanya tampak konyol dan menyebalkan dihadapanku.It is The worst day that I ever had. Bayangan-bayangan gelap nampak menghantui diriku. Harapan lulus tepat waktu bagi Mr. Perfectionist ini tinggal kenangan saja. Aku tidak semudah itu mendapat ide cemerlang untuk sesuatu yang besar. Butuh persiapan,butuh tenaga ekstra untuk berpikir,merenung dan turun ke lapangan melihat realita. Dasar..mahasiswa Keparat!!!

Hilang sudah gairahku untuk menikmati hari ini..hingga sudut mataku menangkap sesosok kecil sedang duduk dipinggir trotoar mambawa satu termos kecil yang penuh berisi es lilin. Saat kupandang dia sekilas, tampak dia sedang menyunggingkan senyum yang manissss sekali. Senyum yang mungkin tidak mampu terbahasakan dengan bahasa orang dewasa yang telah terkotori nafsu dunia. Aku terus menatapnya hingga ia tersadar bahwa aku sedang memandanginya..Ia gadis kecil tertuduk malu..namun tak lama kemudian wajahnya mendongak..mata kecilnya berbinar indah. Ia bangkit dari duduknya dan beranjak mennghampiriku. Aku terhenyak.Diam. Menunggu reaksinya apa yang akan dia lakukan.

            Gadis kecil itu tersenyum merekah..lama dan lirih berkata,” Kakak, beli es lilinnya donk???”

Aku tak segera mengiyakan permintaannya,rasa penasaranku terhadap gadis kecil ini membuatku malah bertanya,” Emangnya adek ga sekolah?kok malah jualan es lilin…”ujarku penasaran.Gadis itu menjawab lugu,”Ini buat sekolah Dwi kak..Ibu ga punya uang buat bayar sekolah.Jadi biar bisa sekolah,Dwi harus bantu ibu jualin es ini.”

Mataku berkaca-kaca haru..Aku merasa kecil sekali dibandingkan bidadari mungil didepanku ini. Dia mau berjuang untuk kehidupannya. Dia tersenyum untuk menyambut masa depannya. Dia berbahagia dengan membahagiakan orang lain. Yah..sungguh mulia pribadi gadis kecil ini,senyum tulusnya mampu menggetarkan hatiku yang mengeras oleh ego kebesaran seorang mahasiswa dengan IPK selalu Cum Laude.Senyum tulus merekah 227, 2 cm ke kanan , 2 cm ke kiri dan tertahan lama selama 7 detik. Sungguh dek senyummu manis sekali…

“Dek,ajari kakak untuk tersenyum yaa?Biar kakak bantu jualin Es nya….

Gadis itu hanya tersenyum..lagi.

Oleh: Karimah Zahrotul Jannah

Etoser Surabaya 2008

About sangpengkader

Semangat untuk lebih dari sekedar Luar Biasa
This entry was posted in Rehat Kami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s