Bolehkah Aku Mencintai?

                Saya begitu terusik segera menulis tema ini. Walaupun kebanyakan orang sudah sering membahasnya, bisa dikatakan cinta itu bahasan yang tidak pernah usang dimakan zaman. Bagaimana tidak? Zaman dahulu pun banyak cerita cinta yang sudah terukir..ujung-ujungnya adalah cerita pasangan lawan jenis..mulai dari kisah Adam – Hawa, Yusuf – Zulaikha, Galih – Ratna atau Fahri dan Aisyah. Namun tetap saja bahasannya tidak pernah menjemukan dan jadi favorit menu kajian..cinta dan cinta..

Sebagian orang menyebutkan bahwa cinta tak perlu didefinisikan. Namun sebenarnya dari definisi itu kita akhirnya tahu bagaimana mencintai. Kita menyadari bahwa cinta adalah energi. Ia mendorong seseorang melakukan hal yang mustahil menjadi mungkin. Ia merubah seseorang “seratus delapan puluh derajat”. Ia membuat yang berat terasa  ringan..ia membuat kita berbuat lebih dan memberi lebih. Misalkan suatu hal diawali dengan kata “cinta”. It will be amazing. Belajar jika diawali dengan kata “cinta”  maka akan luar biasa. Dakwah jika diawali dengan kata “cinta” maka akan jadi dahsyat bukan? Allah jika diawali dengan kata “cinta” maka akan jadi energi yang tak tertandingi. That’s the greatest love.

Allah pun menitipkan ayat-ayat tentang cinta dibeberapa surat  dalam Al Qur’an, contohnya dalam Qs. Ali Imran ayat 14, “ Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah lah tempat kembali yang baik  (surga).”

Apakah engkau pernah mencintai? Semua pasti pernah merasakannya. Teringat nasyid lama dari the fikr. “Mencintai dicintai fitrah manusia. Setiap insan di dunia akan merasakannya. Indah ceria kadang merana itulah rasa cinta.” Dengan warna warni rasa cinta itu sadarkah kita  apakah kita benar dalam mencintai?  Nah, perspektif yang kita bahas sekarang adalah tentang “the greatest love”. Cinta kita kepada sang Maha Pecinta, Allahu Rabbul A’lamin. Karena cinta kita ini sejatinya tidak bisa terbagi. Cinta dalam hati ini hanya untuk satu cinta. Sehingga sudah selayaknyalah cinta sejati ini kita persembahkan kepada Allah SWT. Segala rasa cinta ini harus bermuara pada-Nya dan tidak ada cinta selain-Nya. Maka selanjutnya rasa cinta kepada yang lain pun selalu berdasar atas rasa cinta kepada-Nya. Berani berkata cinta maka harus mau tertuntut cinta. Karena cinta tidak sekedar kata tetapi dia menuntut kerja begitu kata pak Salim A. Fillah. Berani mencintai Allah berarti mau dituntut bukti rasa cintanya kepada Allah.

Cinta kepada Allah akan dituntut dengan 3 hal. Pertama, cinta yang dituntut adalah cinta yang sempurna.  Dalam surat Al Baqoroh ayat 165 Allah berfirman, “ Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mencintai   Allah. Adapun orang-orang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa  Allah amat berat siksa-Nya (niscaya mereka menyesal).” Cinta yang sempurna membuat kita mencintai Allah tidak sama seperti cinta kita kepada yang lain, tidak boleh lebih cinta kepada yang lain dan harus sangat cinta kepada Allah. “Tidak beriman seseorang dari kalian hingga menjadikan aku lebih dia cintai dari orang tuanya, anaknya dan manusia semuanya” (HR. Bukhari).

Tuntutan ke dua adalah mencintai apa dan siapa yang dicintai Allah. Mencintai apapun yang dicintai Allah adalah bentuk cinta kita kepada Allah. Mencintai siapapun yang dicintai Allah merupakan merupakan wujud cinta kepada Allah pula. Kecintaan kita kepada Allah akan menuntut adanya penyesuaian dalam kecintaan. Karena belum tentu yang kita cintai pun dicintai oleh Allah. Seperti yang tercatat dalam Qs.Al Baqoroh ayat 216, “Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” Sehingga rasa senang tidak senang kita bukan dengan parameter nafsu diri namun menggunakan parameter langit, apa yang Sang kekasih, Allah Azza Wa Jalla inginkan terhadap kita. Ulama berkata, “Mencintai yang dicintai kekasih adalah tanda kesempurnaan cintanya kepada kekasih”.

Selanjutnya tuntutan ke tiga, membenci apa dan siapa yang dibenci Allah. Allah membenci perbuatan munkar dan permusuhan maka kita pun membencinya. Kebencian terhadap perbuatan syirik dan segala hal penyimpangan terhadap aqidah adalah wujud cinta kepada Allah. Karena sungguh akan membuat Allah tersinggung apabila Allah membenci sesuatu tetapi kita malah menyukainya.  “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat dan Dia melarang (melakukan) perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran”(Qs. An Nahl ayat 90).

Ketika 3 tuntutan itu terpenuhi,maka kita telah ridho dalam mencintai Allah. Kecintaan kita yang tinggi begitu ikhlas dan membuahkan kerelaan untuk menjalani apapun yang dikehendaki oleh Allah. Yang Allah kehendaki dalam diri kita adalah melaksanakan petunjuk-Nya, menjalankan syari’atnya dan berkomitmen terhadapnya. Kita menerima semua kehendak dan kemauan Allah tersebut tanpa reserve. Itulah hakikat sebenar-benar cinta. So, jangan asal mengaku cinta kalau  belum terpenuhi 3 tuntutan cinta.

Maka betapa ingin kusempurna mencinta-Nya

Mencintai kan selalu berbalas dan tak bertepuk sebelah tangan

Maka betapa rindu untuk selalu mencinta-Nya

Mencintai tak buat sakit,kecewa dan luka

Ijinkan aku mencinta-Nya

Sungguh  Dia hanya balas cinta dengan satu rasa

Innii Asyaddu Khubba lillah..

 

BY Sangpengkader

About sangpengkader

Semangat untuk lebih dari sekedar Luar Biasa
This entry was posted in Rehat Kami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s