Belajar pada “Mbok” Penjual Pecel

Pagi ini aku rindu bertemu “Mbok” . Belum lama aku mengenalnya, pun bertemunya hanya berkisar 10-15 menit.. Awalnya aku ingin mencoba mencari tempat baru yang menjual makanan favoritku, pecel. Maklum sebagai orang desa, rindu rasanya dengan makanan dari daerah sendiri. Walau bukan hal sulit menemukan pecel di kota ini, bahkan bertebaran penjual pecel dimana-mana. Tetapi entah kenapa belum ada yang cocok. Yang ini kurang cocok rasanya, kurang sedap bumbunya, terlalu pedas sambel pecelnya atau kurang sreg harganya, hehe..

Singkat cerita sampailah aku berkunjung di warung pecelnya si mbok. Mungkin tidak bisa dibilang warung ya. Mbok hanya meletakkan satu etalase kecil di atas meja. Di etalase itu ia menyajikan aneka lauk pendamping pecel. Para pembeli yang ingin andok dipersilakan duduk di teras rumahnya. Mbok memang berjualan pecel tepat di teras rumahnya.

Aku sempat terheran ketika bertemu mbok pertama kali. Tubuhnya kecil dan agak membungkuk. Seperti biasa ia mengenakan pakaian abaya dan kerpus di kepala menutup rambutnya yang memutih. Karena sudah sepuh, kulitnya pun sudah sangat keriput. Berjalan saja tertatih dan pelan sekali. Ah mbok memang luar biasa. Aku takjub seorang wanita tua di usia sekian masih bersemangat berjualan pecel. Aku belum tahu pasti apa motivasinya tetap berjualan hingga kini. Faktor ekonomikah? Aku rasa tidak. Rumah dua lantai tempat mbok tinggal adalah rumahnya sendiri. Kata mbok rumah ini hasil keuntungan menjual pecel selama ini.

“Aku moh leren disik nduk,” kata mbok padaku kala itu. Ya, usia lanjut yang biasa di identikkan dengan masa lemah, tidak produktif dan bersantai-santai tidak berlaku pada sosok hebat ini. Hmm..aku hanya tersenyum mendengar penuturannya. Apa karena cinta pada aktivitasnya ini mbok rela repot walau dengan hasil yang tak seberapa. Pecelnya enak dengan kombinasi menu yang tidak kalah nikmat. Mbok hanya menjualnya dengan harga yang masih terbilang ekonomis dibanding dengan pecel lain yang pernah kusantap. Kulihat warungnya selalu ramai dan penuh antrian para pembeli yang menanti pecel buatan Mbok.

Hikmah bisa kita dapatkan dari siapapun. Aku membayangkan bagaimana ya kondisi diriku saat di posisi mbok. Sudah memasuki usia lanjut, tubuh yang ringkih, dan mungkin ingatan yang melemah. Ya Allah..aku hanya bisa berdo’a semoga Kau tetap memberi kekuatan kepadaku agar tetap istiqomah menjalankan peranku di dunia ini hingga akhir hayat. Ya Allah.. anugerahkan kepada mbok kesehatan agar dia tetap kuat menjalankan aktivitasnya. Ya Allah, jangan biarkan azzam kami melemah ketika tubuh ini mulai ringkih, jangan biarkan futur menjalari hari kami ketika usia tak lagi muda, Ya Allah berilah kesehatan pada badan kami, Ya Allah, berilah kesehatan pada pendengaran kami, Ya Allah berilah kesehatan pada penglihatan kami. Amiin Ya Rabbal Alamiin.

Alhamdulillah,hari ini Mbok mengajarkanku agar tidak lalai bersyukur dengan nikmat waktu dan sehat yang telah Allah berikan. Selagi masih muda, selagi tubuh masih kuat, selagi nafas masih bersambung..yuk menjadi muslimah produktif, menjadi sebaik-baik manusia, membagi manfaat dan menebar kebaikan dimanapun berada. Hamasah!!!

Di teras masjid nuruzzaman, 11 April 2013

About sangpengkader

Semangat untuk lebih dari sekedar Luar Biasa
This entry was posted in Rehat Kami. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s